Japanese scenery

Natal, Api Kecil 2026

Malam yang dingin, api kecil yang selalu digenggam erat.

Natal, Api Kecil 2026

23 Desember 2025. Kota ini terasa dingin, jendela kamar menghembuskan angin sejuk, jam di dinding menuntun jalan pulang yang tiada wujudnya. Dingin melilit jiwa, sepi menumpang di bahu layaknya sahabat lama yang tak kunjung pamit.

Cerita di tahun ini telah selesai, tidak ada lembaran yang menarik yang layak di ceritakan, setiap lembaran yang ada layaknya lembaran kosong yang hanya berisi tanda titik dan koma. Namun dari itu semua, di akhir cerita ini. kehangatan mulai muncul dari diri yang menghangatkan jiwa.

Dari rasa yang hilang, mimpi yang perlu di raih, tujuan yang perlu di perjuangkan, harapan yang tidak perlu di harapkan lagi, waktu yang tidak perlu di bagi, kesalahan yang tidak perlu diulangi kembali, keburukan yang di singkirkan, jalan yang perlu di pilih, dan masalah yang perlu di selesaikan. semua memeluk menciptakan rasa hangat yang perlu dipertahankan.

Namun tetap saja dialiri rasa sepi yang mengalir pelan layaknya salju yang jatuh dari langit. Di sela hati dan fikiran yang berat itu, kehangatan yang ada dari api kecil itu dibesarkan diam diam, menelan perasaan dan kenangan yang memberatkan jiwa, mengusir kebiasaan buruk yang dulu dipelihara tanpa sadar yang mungkin menyakiti orang lain maupun diri.

2026 mengetuk pintu yang belum tergenggam utuh. Mimpi yang diikat di meja belajar akan diajak berlari mengelilingi dunia, tujuan yang ditulis akan diraih. Jika cinta hadir, biarlah hadir sebagai kompas yang menunjuk ke depan, bukan jangkar yang menarik ke belakang. Tahun baru ini tetap terasa sunyi, kepala menoleh lalu melihat diri sendiri, diri yang tetap berjalan dengan api kecil di dada, cukup untuk menyibak kabut yang mengahalangi pandangan dan harapan, cukup untuk percaya di halaman berikutnya bakal lebih ramai meski malam ini masih terasa asing dan sepi.

“Setiap cerita adalah bagian dari perjalanan hidup”